• Bapa Gereja

  • Keluarga

  • Khotbah

  • Renungan

  • Cerita SM

  • Perpustakaan

  • Artikel

KERAJAAN ALLAH MENURUT INJIL MARKUS

PENDAHULUAN
Injil Markus adalah sebagai Injil yang pertama kali ditulis, oleh sebab itu Injil Markus memiliki kedudukan yang penting. Dalam Injil Markus tidak tertulis bahwa Markuslah penulis Injil tersebut, bahkan nama Markus pun tidak tercantum di dalamnya. Tradisi gereja mula-mula menegaskan bahwa Markuslah penulisnya. Markus adalah murid Petrus dan dibesarkan dalam keluarga Kristen (Kis 12:12). Di dalam tulisan Papias terdapat tulisan yang menyatakan bahwa Markus adalah juru bahasa Petrus dan dididik di bawah pimpinan Petrus. Markus bukanlah salah satu dari kedua belas murid Yesus namun dia mungkin sempat mendengarkan Yesus mengajar. Ibu Markus adalah Maria (Kis 12:12) yang adalah seorang janda kaya yang memiliki rumah di Yerusalem dimana jemaat mula-mula sering berkumpul. Ada kemungkinan bahwa Yesus makan paskah dengan murid-murid-Nya di rumah tersebut. Cranfield mengemukakan pandangan tradisi gereja mula-mula:
The unanimous tradition of early church that the author of Gospel was Mark, the associate of peter, is not open to serious doubt. while the Gospel provides no direct internal evidence in support of the tradition, it contains nothing which is incompatible with it and a good deal that points to a connection with peter.
Tradisi gereja mula-mula mendukung bahwa Markus yang merupakan teman Petruslah yang merupakan penulis Injil Markus. Walaupun di dalam Injil Markus tidak dengan jelas menulis siapa pengarangnya namun tidak ada bukti yang menentang bahwa Markuslah penulis Injil Markus. Dari pembahasan di atas, maka sangatlah mungkin bahwa Markuslah yang menulis Injil Markus.
ALAMAT PENULISAN
Injil Markus ditulis atas dorongan dan keinginan pendengar Petrus di Roma. Injil Markus dialamatkan kepada non-Yahudi yang berbahasa latin. Hal ini nampak dimana adat istiadat Yahudi dan pemakaiannya dijelaskan (Mrk 7:2; 14:12) dan hal ini juga disebabkan karena pembaca tidak tahu mengenai adat-istiadat Yahudi. Selain itu kata-kata Ibrani dan Aramic selalu diterjemahkan (7:34). Markus juga sering memakai istilah-istilah Latin atau menerjemahkan istilah-istilah Yunani dalam bahasa latin. Injil Markus juga merupakan satu-satunya Injil yang menyebut tentang Rufus dan Alexander, anak-anak Simon orang Kirene. Rufus adalah orang Roma (Kis 16:13), hal ini mengindikasikan bahwa Markus mengenal mereka. Mengenai alamat Injil Markus Nelson menulis:
Historical Setting. The Gospel of Mark is evidently written for Gentiles, and for Romans in particular. Mark translates Aramaic and Hebrew phrases <3:17; 5:41; 7:34; 14:36>; he transliterates familiar Latin expressions into Greek, for example, legio <5:9>, quadrans <12:42>, praetorium <15:16>, centurio <15:39>. Moreover, Mark presents Romans in a neutral <12:17; 15:1-10>, and sometimes favorable <15:39>, light. The emphasis on suffering in the gospel may indicate that Mark composed his gospel in order to strengthen Christians in Rome who were undergoing persecutions under Nero.
Jadi kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa alamat penulisan Injil Markus adalah kepada orang-orang Kristen di Roma, dan melalui mereka diteruskan kepada kita semua. Markus juga menerjemahkan frasa-frasa Aramic dan Ibrani. Di dalam Injil Markus terdapat hal-hal mengenai penderitaan, hal ini untuk menguatkan jemaat di Roma yang sedang mengalami tekanan.
TEMPAT DAN WAKTU PENULISAN
Waktu penulisan Injil Markus tidak bisa dipastikan. Terdapat beberapa perbedaan di dalam menghitung waktu penulisan Injil Markus. Klemens dan Origenes mengatakan bahwa Injil Markus ditulis pada waktu Petrus masih hidup yaitu sebelum tahun 65 M. Ireneus mengatakan bahwa Injil Markus ditulis sesudah Petrus mati sahid di Roma. Sedangkan menurut kepercayaan orang Kristen dahulu, Markus menulis Injilnya ketika dia berada di Propinsi Italia, kemungkinan besar di Roma. Ini mengindikasikan bahwa Injil ini ditulis kira-kira tahun 42 Masehi, ketika itu Petrus pertama kali berada di Roma. Menurut Eusebius (236-339 M), Petrus berada di Roma pada masa pemerintahan Klaudius pada tahun 41-45 M.
AKTU KEDATANGAN KERAJAAN ALLAH
Ketika membahas mengenai Kerajaan Allah maka tidak bisa lepas untuk membahas waktu kedatangan Kerajaan Allah. Di dalam khotbah akhir zaman, Yesus mengatakan bahwa waktu akhir zaman tidak seorangpun tahu, malaikat sorga pun yang mempunyai hubungan yang dekat dengan Allah (Yes 6:1-3; Mat 18:10) tidak tahu, bahkan Yesus yang dilihat di dalam natur kemanusiaannya sendiripun tidak tahu, hanya Bapa saja yang tahu (Mrk 13:32). Namun di dalam Injil Markus juga terdapat juga perkataan-perkataan Tuhan Yesus bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, sudah datang, dan akan datang. C.H Dodd berpendapat bahwa eskatologi sudah terpenuhi atau direalisasikan. Apa yang dinubuatkan oleh Perjanjian Lama telah sepenuhnya terpenuhi, sehingga tidak perlu meyakini kedatangan Kristus yang kedua kali. Pendapat Dood ini tidak proporsional karena hanya menekankan kekinian Kerajaan Allah. Sedangkan Albert Schweitzer berpendapat bahwa Kerajaan Allah sepenuhnya ada di masa depan dan bersifat supranatural. Pandangan Schweitzer inipun juga tidak proporsional karena hanya menekankan keakanan kedatangan Kerajaan Allah. Dalam pembahasan berikutnya akan dibahas mengenai perkataan-perkataan Tuhan Yesus ini.

Teks “Kerajaan Allah Sudah Datang”
Di dalam Injil Markus terdapat beberapa teks yang mengindikasikan bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Di dalam Markus 1:15 Yesus berkata “Waktunya telah genap ; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!". Teks ini berisi struktur:
a. Proklamasi
- Waktunya sudah genap
- Kerajaan Allah sudah dekat
b. Keputusan
- Pertobatan
- Percaya kepada Injil.
Kata “waktu” atau kairo.j mempunyai pengertian waktu Tuhan dan merupakan waktu untuk penggenapan tujuan-Nya. . Bentuk indicative perfect mengindikasikan sesuatu yang sudah ada sekarang akibat perbuatan masa lalu sehingga dapat disimpulkan bahwa kata “genap” ini berarti sesuatu yang dinubuatkan masa lalu sudah digenapi sekarang. Teks di dalam Markus 1:15 ini sangat mirip dengan perkataan Yohanes pembaptis di dalam Matius 3:2 "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" Namun walaupun sangat mirip tetapi ada perbedaan mendasar. Yohanes mengatakan Kerajaan Sorga akan datang di dalam diri Yesus, sedangkan Yesus mengatakan Kerajaan Allah “sudah genap” adalah sudah hadir dalam pribadi-Nya. Kerajaan Allah adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari diri Yesus. Brooks menulis “Here Mark refered to the time appointed by God for the fulfillment of his promises. The period of preparation, that of ancient Israel and John, was complete. The divinely appointed time had come. The prophecies were being fulfilled in Jesus. Here Mark refered to the time appointed by God for the fulfillment of his promises. The period of preparation, that of ancient Israel and John, was complete. The divinely appointed time had come. The prophecies were being fulfilled in Jesus.” Markus menunjuk pada waktu yang ditentukan oleh Allah untuk memenuhi janji-Nya. Masa persiapan bangsa Israel pada masa lampau dan Yohanes pembaptis sudah genap. Nubuatan dalam Perjanjian Lama sudah dipenuhi dalam diri Yesus.
Di dalam teks Markus 1:15 Yesus mengatakan Kerajaan Allah sudah dekat, Alkitab New International Version menggunakan kata “the Kingdom of God is at hand”. Kata “sudah dekat” (h;ggiken = approach, come or draw near) digunakan di dalam Matius 3:2, 4:17 sehubungan dengan pertobatan, selain itu di dalam Matius 10:7, Lukas 10:9, 11, digunakan sehubungan dengan pemberitaan Injil yang jalannya sudah dipersiapkan oleh Yohanes pembaptis. Yesus mengatakan Kerajaan Allah sudah dekat dalam artian adalah pelayanan-Nya di dunia ini akan segera dimulai. Pekerjaan-Nya di dunia yaitu berkhotbah, mengajar, dan menyembuhkan di Galilea dan sekitarnya akan segera dimulai. Kerajaan Allah bukanlah lagi pengharapan namun sudah hadir saat ini. Nubuatan di dalam Perjanjian Lama telah digenapi. Hal ini juga yang dimaksudkan oleh Paulus di dalam Galatia 4:4 “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” Henry mengomentari:
He acquaints us with the much happier state of Christians under the gospel-dispensation, v. 4-7. When the fulness of time had come, the time appointed of the Father, when he would put an end to the legal dispensation, and set up another and a better in the room of it, he sent forth his Son, etc. The person who was employed to introduce this new dispensation was no other than the Son of God himself, the only-begotten of the Father, who, as he had been prophesied of and promised from the foundation of the world, so in due time he was manifested for this purpose. He, in pursuance of the great design he had undertaken, submitted to be made of a woman-- there is his incarnation; and to be made under the law-- there is his subjection. He who was truly God for our sakes became man; and he who was Lord of all consented to come into a state of subjection and to take upon him the form of a servant; and one great end of all this was to redeem those that were under the law-- to save us from that intolerable yoke and to appoint gospel ordinances more rational and easy.
Allah memperkenalkan Diri-Nya dengan memberikan anak-Nya yang tunggal ke dunia. Yesus mengambil wujud seorang hamba untuk menebus manusia dari dosa mereka. Hal ini telah dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama dan digenapi di dalam waktu Tuhan. Sedangkan Cole menulis bahwa semua telah dipanggil untuk bertobat dan mempercayai kabar baik yang mana Yohanes pembaptis telah mempersiapkannya. Hal ini berarti bahwa Kerajaan Allah sudah datang melalui pelayanan Yesus, Kerajaan Allah akan bertahta di dalam hati orang yang percaya yang telah mengakui dosa-dosanya. Untuk hal ini Yohanes pembaptis telah mempersiapkan jalan-Nya. Lebih lanjut Hendricksen menulis:
What Jesus saying, then, is that God's reign in the hearts and lives of men would begin to assert itself far more powerfully than ever before. Great blessings were in store for all those who, by sovereign grace, would confess and forsake their sins and would begin to live to God's glory.
Ketika seseorang menerima pemerintahan Allah di dalam hati mereka maka orang tersebut akan memiliki kekuatan untuk hidup serta memiliki berkat melimpah, meninggalkan dosa-dosa dan mengakuinya serta akan hidup di dalam kemuliaan Allah. Kata “bertobatlah” menggemakan perkataan Yohanes pembaptis agar orang-orang bertobat dan berbalik kepada Yesus. Mengenai hal pertobatan ini Ogilvie menulis:
“Repent” (v. 15) is the third note of the Good News. Echoing and affirming the message of John the Baptist, Jesus does not shrink from the confession of sin. People expect that preaching will lead to a call for decision. In this case, Jesus calls people to turn 180 degrees from the direction in wich they are going and begin to walk back toward God.
Bertobat adalah berita ketiga dari kabar baik yang diberitakan Yohanes pembaptis. Yesus mengharapkan orang-orang bertobat dan berbalik seratus delapan puluh derajat dari dosa-dosa mereka dan mulai mengikuti jalan Tuhan. Tidak diragukan lagi suatu momen penting dalam sejarah telah tiba. Momen penting itu telah hadir di dalam diri Yesus dan menuntut keputusan untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat. Keselamatan tidak dapat dipisahkan dari Yesus Kristus.
Teks lain yang menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah hadir di dalam diri Yesus adalah Markus 9:33-37. Teks ini paralel dengan Mat 18:1-5; Lukas 9:46-48. Tertulis dalam teks ini barang siapa yang menyambut seorang anak dalam nama Yesus adalah sama dengan menyambut Yesus sendiri. Di dalam Matius 19:14 dikatakan “merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” sehingga dapat disimpulkan bahwa siapa yang menyambut Yesus dia juga menyambut Kerajaan Allah. Lebih lanjut tentang Kerajaan Allah ini Ladd menjelaskan:
Furthermore, the idea is found in Luke 10:8-11 where reception of the disciples is equivalent to reception of the Kindom and vice versa. Furthermore, mark 9:37 (= Matt. 18:5, Luke 9:48) says that to receive a little one in Jesus name is equivalent to receiving Jesus, and to receive Jesus is to receive God.
Sedangkan Cole menambahkan:
Indeed, as we have seen, to welcome children in the name of Jesus is to welcome Jesus Himself. This was an example of the new set of value in the Kingdom. Now, we are told that, to enter the Kingdom, we must ourselves have childlike qualities (verse 15), though Jesus does not say that all children are, by being children, within God’s kingdom already. That is why the children must not be hindered from coming to Jesus, for the Kingdom is made upon those who share their attitude.
Menyambut seorang anak dalam nama Yesus adalah seperti menyambut Kerajaan Allah, ini adalah suatu nilai baru dari Kerajaan Allah dimana untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus bersikap seperti anak kecil. Maka dari itu tidak boleh menghalangi anak untuk datang kepada Yesus.
Di dalam teks Lukas 10:8-11 dikatakan bahwa menerima murid-murid Yesus setara dengan menerima Kerajaan Allah sedangkan di dalam Markus 9:37 dikatakan barang siapa menyambut seorang anak di dalam nama Yesus setara dengan menerima Allah. Di dalam Markus 10:15 dikatakan bahwa Kerajaan Allah adalah sesuatu yang harus diterima. Dalam hal ini berarti Kerajaan Allah sudah ada di antara manusia. Kerajaan Allah harus diterima seperti sikap seorang anak kecil yang menerima hadiah. Dalam hal ini jelas bahwa penekanan Yesus adalah pada kesederhanaan, kerendahan hati, taat, bisa dipercaya yang tercermin dari sikap seorang anak kecil. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah di dalam hati manusia dan ada berkat bagi yang menerimanya.
Sedangkan di dalam Markus 10:29-30 Yesus mengatakan bahwa tindakan orang meninggalkan rumahnya adalah karena “Aku dan Injil”, namun di dalam Matius adalah karena “Nama-Ku”, sedangkan di dalam Lukas karena “Kerajaan Allah”. Di dalam Markus 10:25 dikatakan bahwa orang kaya sulit untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, hal ini karena orang kaya tersebut lebih condong kepada harta daripada kepada Allah. Terkait dengan harta Jamieson berpendapat:
First, Observe how graciously the Lord Jesus acknowledges at once the completeness and the acceptableness of the surrender, as a thing already made by the attached followers whom He had around Him. `Yes, Peter, thou and thy fellows have indeed given up all for Me, and it makes you beautiful in Mine eyes; but ye shall lose nothing by this, but gain much. ' Next, Observe how our Lord identifies the interests of the kingdom of God with the Gospel's and with His own-- saying alternatively, "For the kingdom of God's sake," and "for My sake and the Gospel's." See the note at ; and at .
Setiap orang yang mengikut Yesus harus menyerahkan semua miliknya dan akan menderita karena Injil Kristus, mereka akan menerima upahnya sendiri nanti yaitu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Menerima Yesus berarti menerima Kerajaan Allah. Terkait dengan hal ini Ridderbos menulis:
On the ground of all these data there can be no doubt at all about the present-messianic character of Jesus coming and work. And thus also the meaning of the fulfillment proclaimed by Jesus is revealed as to its real assence. The kingdom of heaven has come because Christ has come.
Tidaklah dapat diragukan lagi bahwa nubuatan telah digenapi, Kerajaan Allah sudah datang melalui kedatangan Tuhan Yesus. Dari teks Markus 10:29-30, Matius 19:29 dan Lukas 18:29 dapat disimpulkan bahwa Yesus identik dengan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah telah datang karena Yesus telah datang. Yesus mengatakan bahwa siapa yang memberikan semua miliknya kepada-Nya akan memperoleh hidup kekal. Ladd menulis “This group whom we may call disciples, propably varied in size from time to time. These are sons of the Kingdom who not only accepted the message of the Kingdom but were called to leave all to share Jesus mission.” Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa untuk melaksanakan misi-Nya maka mereka harus meninggalkan semua milik mereka.
Hal ini terlihat juga di dalam Markus 12:32-33 seorang ahli Taurat berkata kepada Yesus bahwa “Allah itu esa dan tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” Terhadap pernyataan ahli taurat ini Yesus menjawab “engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah”. Brooks menulis di dalam American Commentary:
There is not much difference in loving God and trusting him. In addition to acknowledging the necessity of loving God and humanity, the man evidently commited himself to do just that. He was receptive to Jesus as a person as well as to his teaching. No wonder Jesus indicated that the man was not far from entering the Kingdom, from letting God reign in his life. By saying that he was not far, Jesus encouraged him to gothe remainder of the way by wholeheartedly following Jesus. Whether he did so cannot be known, but every reader of Mark hopes so.
Adalah tidak banyak berbeda dengan mengasihi Allah dan mempercayai Allah. Mengasihi Allah juga berarti mengasihi manusia seperti yang terlihat di dalam perkataan ahli taurat sehingga Yesus berkata kepadanya “engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah”. Apa yang harus diterima bukanlah hal-hal dunia baik sekarang atau yang akan datang, namun adalah pemerintahan Allah dalam hati. Menerima pemerintahan Allah berarti juga harus menerima penderitaan atau kuk sebagai bagian dari kedaulatan pemerintahan Allah. Dan hal tersebut adalah hal utama yang harus dilakukan untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Sebagai kesimpulan adalah bahwa ketika membahas Kerajaan Allah maka tidak bisa lepas untuk membahas waktu kedatangan-Nya. Waktu kedatangan Kerajaan Allah tidak dapat diketahui tepatnya. Bahkan Yesus sendiri dilihat dari natur kemanusiaan-Nya tidak tahu kapan tepatnya kedatangan Kerajaan Allah. Ungkapan Yesus bahwa Kerajaan Allah sudah datang adalah menunjuk pada kehadiran-Nya di dunia. Kerajaan Allah adalah identik dengan diri Tuhan Yesus sendiri. Kerajaan Allah tidak bisa dipisahkan dari Yesus. Kerajaan Allah yang dinubuatkan di dalam Perjanjian Lama telah digenapi di dalam diri Yesus dan Yohanes pembaptis sudah mempersiapkan kedatangan-Nya. Kerajaan Allah bukanlah pengharapan lagi namun sudah hadir saat itu. Hal ini berarti Kerajaan Allah sudah hadir di antara manusia. Kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah di dalam hati manusia yang menerima Yesus sebagai Juruselamat. Namun menerima pemerintahan Allah berarti juga harus menerima penderitaan termasuk meninggalkan segalanya sebagai bagian dari kedaulatan pemerintahan Allah.

Kerajaan Allah Akan Datang
Selain menyingkapkan bahwa Kerajaan Allah sudah datang, Yesus juga mengungkapkan bahwa Kerajaan Allah akan datang. Kesulitan di dalam perkataan Yesus mengenai kedatangan Kerajaan Allah adalah waktu kedatangan tersebut. Ada tiga pandangan mengenai waktu kedatangan Kerajaan Allah ini yaitu segera terjadi, penundaan, dan tidak diketahui.
Segera Terjadi
Di dalam Injil Markus terdapat dua teks yang menyingkapkan Kerajaan Allah akan datang namun segera. Dua teks tersebut adalah di dalam Markus 9:1 dan Markus 13:30. Di dalam Markus 9:1 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa.". Teks ini paralel dengan Matius 16:28 dimana Yesus berkata kepada murid-murid-Nya “Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya." Sedangkan Lukas menulis dengan lebih sederhana perkataan Tuhan Yesus “Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Kerajaan Allah." Ada beberapa penafsiran dari teks ini. Hoekema mengutip pandangan beberapa teolog yaitu yang pertama adalah pandangan Werner Kummel yang berpendapat bahwa kedatangan Yesus kedua kali akan terjadi pada masa itu juga, lalu Alfred Plummer menafsirkan bahwa teks ini berbicara mengenai transfigurasi Tuhan Yesus, sedangkan John Calvin menghubungkan teks ini dengan kebangkitan dan pencurahan Roh Kudus. Penafsiran Calvin ini cukup luas diterima, sedangkan Van Leeuwen berpendapat bahwa di dalam teks ini Yesus sedang berbicara tentang penyataan Allah pada hari pentakosta, penghakiman-Nya atas Yerusalem, atau penyebarluasan berita Injil ke seluruh dunia, yang terakhir adalah pendapat Lenski yang mengartikan teks ini sebagai penghancuran Yerusalem sehingga orang-orang Yahudi akan lari dan membuka jalan bagi pembentukan Israel baru. Penafsiran-penafsiran ini kurang tepat, Markus 9:1 memang bisa ditafsirkan menunjuk pada transfigurasi Tuhan Yesus menjadi tubuh kemuliaan namun itu bukanlah merupakan final pengharapan Kedatangan Kerajaan Allah. Pengharapan ini tidaklah digenapi pada masa Tuhan Yesus namun beberapa dari mereka pada masa ini akan menyangkal diri mereka, memikul salib dan mengikut Yesus. Hal ini berlaku bagi seluruh pembaca sepanjang jaman tidak hanya bagi pendengar pertama. Pengharapan kedatangan Yesus yang kedua kali tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan-Nya yang terjadi antara masa Tuhan Yesus hidup di dunia dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Matius 28:18 menunjukkan bahwa kebangkitan juga merupakan peristiwa dimana Anak Manusia datang di dalam kuasa dan kemuliaan. Terkait dengan hal ini Ridderbos menulis:
These thing contain important indications of what we are here discussing. From the outset there indeed question of something like two “trend” in Jesus prophecies about the future concerning himself. One of them ends in his death and resurrection, the other in his parousia. These two trends each have an origin of their own and remain parallel in many case. But we should not speak of an antinomy, nor should we think that ressurection and parousia are two words for the same things.
Kematian dan kebangkitan adalah merupakan salah satu dari nubuatan-nubuatan Yesus mengenai diri-Nya namun hal ini tidak bisa dipisahkan dari kedatangan-Nya yang kedua kali. Kebangkitan-Nya dan kedatangan-Nya yang kedua kali tidak dapat dipisahkan.
Sedangkan teks lain yaitu Markus 13:30 dan paralelnya tertulis “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi.” Perkataan Tuhan Yesus di dalam kedua teks ini jika dilihat dari paralelnya di dalam Injil Matius adalah sebelum kematian dan kenaikan Yesus ke Sorga dengan tubuh kemulian. Sehingga disimpulkan bahwa perkataan Tuhan Yesus menunjuk pada saat dimana Yesus naik ke Sorga dengan tubuh kemuliaan. Pandangan ini menyimpulkan bahwa Kerajaan Allah akan datang pada saat murid-murid masih hidup. Namun ada juga yang menghubungkan teks ini dengan kehancuran Yesusalem pada abad 70 M. Cole menulis:
This generation must surely be the generation of Jesus earthly ministry, some of whom would indeed have lived to see the awful days of the siege of Jerusalem. but the generation of the ministry would not of course see christ's second coming, so some have striven, rather unnaturally, to interpret genea as meaning people, and refer it to the whole Jewish nation, which will not pass away before that time. undoubtedly, the delay in the secon coming of the lord (the parousia) was a puzzle to the early church, many of whom seem to have expected it in their lifetime, and were therefore saddened and troubled when, one by one, death carried them away before (2 Pet 3:4). it is therefore better to restrict the reference in these things to the temporal judgement of Ad 7. But in anticipating the Lord's return at any moment, the infant church was making no mistake, for every generation should continually be eagerly looking for and expecting the coming (2 Pet 3:12). in the purpose of God, no event now stands between christ's ascension and his second coming, and so it is eternally near.
Ada dua penafsiran yang berbeda tentang kata “angkatan ini”. Yang pertama menunjuk pada pendengar langsung ketika Yesus mengucapkan kata-kata tersebut. Yang memegang pendapat ini adalah Oscar Cullman dan Werner Kummel. Kedua, kata ‘angkatan ini” menunjukkan pengertian kualitatif dan bukan soal waktu, artinya menggambarkan orang-orang Yahudi maupun orang-orang yang tidak percaya yang hidup pada saat Yesus mengucapkan kata-kata tersebut sampai kedatangan Yesus yang kedua kali. Penganut pandangan ini adalah F.W. Grasheide yang mengartikan “angkatan ini” adalah manusia secara umum yang tetap ada sampai kedatangan Yesus kedua kali.
Kata “angkatan” dalam bahasa Yunani adalah genea., memiliki pengertian kualitatif atau berdasarkan mutu, juga temporal atau sementara di dalam Matius 12:39 Yesus berkata "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” Sedangkan di dalam Markus 9:19 Yesus berkata "Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!" dari dua teks tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud Yesus “angkatan ini” adalah orang-orang yang tidak percaya, tidak setia, dan jahat yang hidup sepanjang masa. Terhadap perkataan Yesus “sebelum semuanya ini terjadi” berkembang dua penafsiran. Yang pertama memahami sebagai tanda-tanda yang akan mendahului parousia tetapi tidak termasuk parousia itu sendiri. Sedangkan yang kedua memandang sebagai tanda-tanda sebelum parousia dan termasuk parousia itu sendiri. Hoekema menyetujui pandangan yang terakhir. Hoekema berpendapat bahwa tujuan perkataan Yesus di dalam teks Markus 13:30 sebenarnya tidak untuk memberitahukan saat atau hari tertentu kedatangan-Nya yang kedua kali, melainkan untuk menegaskan kepastian kedatangan-Nya kembali. Pengertian ini diperkuat dengan perkataan selanjutnya “ Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Mrk 13:31). Namun jika dilihat di dalam konteks Markus 13 terdapat nubuatan tentang terjadinya peperangan atau kabar peperangan, gempa bumi, kelaparan, pemberitaan Injil kepada segala bangsa, penganiayaan karena Kristus, siksaan yang belum pernah terjadi, tanda-tanda di langit, kedatangan anak manusia di awan-awan dan di dalam ayat 30 Yesus berkata “Sesungguhnya angkatan ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya itu terjadi” maka penggenapannya tidak bisa dibatasi hanya pada masa itu saja, sehingga disimpulkan bahwa kata “semuanya” berarti semua peristiwa eskatologis yang telah ia sebutkan termasuk kedatangan-Nya di awan-awan .
Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa teks di dalam Markus 9:1 dan 13:30 tidak menunjukkan bahwa Kerajaan Allah akan datang pada saat Yesus masih hidup ataupun pendengar pertama pemberitaan tersebut masih hidup. Teks Markus 9:1 dan 13:30 memiliki pengertian bahwa waktu kedatangan Kerajaan Allah menunjuk kepada parousia termasuk kedatangan-Nya di atas awan-awan. Namun pengharapan kedatangan Kerajaan Allah tidak bisa dipisahkan dengan peristiwa kebangkitan-Nya yang terjadi antara masa Tuhan Yesus dan kedatangan-Nya yang kedua kali.
Penundaan
Ada pandangan bahwa telah terjadi penundaan kedatangan Kerajaan Allah. Di dalam Markus 13:1-12 dikatakan bahwa semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Masa kesusahan akan datang bersama dengan perang dan ada orang-orang yang mengaku sebagai Mesias. Injil harus diberitakan di seluruh bangsa (Markus 13:10; band Mat 10:23). Hoekema mengutip pandangan Albert Schweitzer yang berpandangan bahwa Yesus mengharapkan kedatangan kedua-Nya segera terjadi setelah Injil diberitakan ke seluruh bangsa. Namun setelah murid-murid kembali dari mengabarkan Injil ke kota-kota Israel (Mat 10:23) ternyata parousia itu belum terjadi. Karena itu Yesus menyadari kesalahan-Nya dan di sinilah terjadi penundaan parousia. Menurut Schweitzer sejak itu Yesus berpikir bahwa untuk mewujudkan kerajaan yang diharapkan-Nya adalah dengan penderitaan dan kematian-Nya. Namun ternyata dalam hal ini Yesus pun keliru sehingga Yesus mati dengan penuh kekecewaan. Pandangan ini disebut sebagai eskatologi yang konsisten. Sedangkan menurut Fritz Buri dan Martin Werner Yesus bukan hanya salah dalam memprediksikan waktu parousia tetapi juga keseluruhan konteks eskatologi dimana Yesus menempatkan Kerajaan-Nya. Di dalam Markus 13:10 Yesus berkata “Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa.” Sedangkan menurut Ladd pemberitaan Injil kepada semua bangsa adalah merupakan bagian dari peristiwa eskatologi sebelum akhir zaman. Seluruh bangsa harus mendengarkan Injil. Teolog historis kritis yaitu W.G. Kummel beranggapan bahwa perkataan ini bukanlah perkataan Tuhan Yesus atau menafsirkan bahwa perkataan ini adalah perkataan dari malaikat, pendapat ini juga didukung oleh Jeremias. Teks ini diragukan juga karena tidak berhubungan dengan ayat 9 dan 11 sehingga diperkirakan Markus menyisipkan perkataan Yesus dari konteks yang lain. Plummer menulis “It is probable that in all three Gospels this eschatological discourse is augmented by the insertion of sayings, the setting of which had been lost. hence the difficulty of intrepeting it as whole.” Pendapat Kummel dan Plummer ini adalah tidak benar, Alkitab adalah tidak bersalah dalam teks aslinya, sempurna, berotoritas, efektif, unitas, mutlak, cukup dan terang. Sehingga teks di dalam Markus 13:10 adalah benar merupakan perkataan Tuhan Yesus. Kata “Injil” mengindikasikan pesan dari Tuhan mengenai keselamatan yang diperoleh dari iman di dalam Yesus Kristus. Sedangkan kata “kepada semua bangsa” mengindikasikan bahwa Allah berkeinginan memproklamasikan Injil kepada orang-orang Yahudi lalu kepada non-Yahudi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa orang-orang non-Yahudi dari semula merupakan bagian dari perencanaan keselamatan dari Allah. Keselamatan adalah bagi siapa saja yang percaya kepada Yesus. Sedangkan kata “harus diberitakan” berarti tidak ada tawar menawar lagi. Injil harus diberitakan kepada semua orang. Ladd berpendapat bahwa teks ini adalah merupakan misi dari gereja untuk menyaksikan Injil bukan lagi merupakan misi bangsa Israel. Tugas bangsa Israel sudah diambil alih oleh Gereja. Lane mengemukakan:
Verse 10 envisages the disciples active participation in the missionary enterprise. Involvement with mission identifies them with Jesus and exposes them to the rejection he faced. Nevertheles, a divine compulsion stands behind mission activity throughout the world. The proclamation of the gospel to all emn is an absolute priority in the divine plan of salvation, and as such is an integral element in God’s eschatological purpose. This word of Jesus provided assurance that the Kingdom of God cannot be impeded by any local persecution in Palestine or elsewhere. Despite all opposition, the gospel must be preached throughout the world.
Ayat 10 berbicara mengenai keikutsertaan bagian dari peristiwa eskatologi yang penting. Injil harus diberitakan ke seluruh para murid dalam pelayanan misi Yesus. Di dalam pelayanan ini akan ada penyiksaan yang akan mereka alami atas seijin Allah. Hal ini agar Injil dapat tersebar. Setelah Injil tersebar ke seluruh dunia barulah Yesus datang untuk kedua kalinya. Wycliffe menulis “Another feature of the age is the world-wide preaching of the gospel. The end (v.7) cannot come until the evangelistic task has first been accomplished. Matt 24:14 concludes the saying with the statement, then shall the end come, referring to the end of the age.” Kedatangan Kerajaan Allah adalah merupakan penyempurnaan dari sejarah Kerajaan Allah, kapan hal itu terjadi adalah Allah yang menentukan termasuk kejadian yang mendahuluinya. Ini adalah karakteristik khotbah-khotbah akhir zaman Yesus. Kedatangan Kerajaan Allah bukan hanya merepresentasikan ketidakbersalahan dalam perencanaan Allah namun juga sejarah keselamatan yang dirancang oleh Allah.
Dari pembahasan di atas, maka penulis menyatakan bahwa tidak ada penundaan kedatangan Kerajaan Allah. Teks 13:1-12 mempunyai arti bahwa Injil harus diberitakan ke seluruh dunia sehingga seluruh bangsa mendengarkan Injil dan hai ini merupakan bagian dari peristiwa terakhir dalam eskatologi sebelum kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.
Tidak Diketahui
Perkataan Yesus Di dalam Markus 13:32-33 “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja. Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba." Terdapat makna yang kuat bahwa kedatangan Kerajaan Allah tidak dapat diketahui waktunya. Teks ini mengajarkan, karena waktu kedatangan Kerajaan Allah yang tidak diketahui maka manusia harus siap secara rohani dan berjaga-jaga ketika waktu itu tiba. Tidak ada seorangpun yang tahu waktu kedatangan Kerajaan Allah sekalipun Yesus. Dalam ayat 33 kata “berjaga-jagalah” dalam bahasa Yunani avgrupnei/te\ verb imperative present active 2nd person plural (be alert; watch over) berarti waspada, senantiasa memperhatikan dan merupakan suatu perintah yang harus dilakukan terus-menerus atau berulang-ulang. Hal ini menunjukkan bahwa waktu kedatangan akhir zaman tidak mungkin diramalkan secara tepat. Pernyataan bahwa waktu kedatangan itu hanya Bapa yang tahu menjelaskan bahwa setiap misi yang dijalankan oleh Tuhan Yesus di bawah pengaturan Allah. Hal ini mengajarkan bahwa ada beberapa hal yang tersembunyi bahkan bagi Yesus. Cole menulis:
This is a wise warning that, if we calculate to our own satisfaction the date in time upon which Christ will return, we shall certainly be mistaken. This should strike caution into the most modern exponent of prophecy. At a deeper level, it teaches that there are certain things hidden even from the Son, in the omniscience of the Father.
Senada dengan Cole, Garland menyatakan:
Jesus affirm that the time of the end is hidden from all human, the angels in heaven, and even the Son. Nothing can be cleare. No one knows how the seed grows (4:27), no one knows when the end will come. The timing of the final day belongs to the power of God alone (see Acts 1:7: “The Father has set [the times and dates] by his own authority”). Just as it is not in Jesus power to grant to anyonoe to sit at his right hand or left, so Jesus must be obidient to the sovereign will of God, who determines the times.
Teks ini menegaskan bahwa tidak seorangpun dapat mengetahui dengan pasti waktu kedatangan Yesus yang kedua kali (parousia). Orang yang berusaha menghitung waktu kedatangan Yesus yang kedua kalinya pasti salah. Yang harus dilakukan oleh orang percaya bukanlah menghitung hari kedatangan Yesus yang kedua kalinya namun berdoa dan berjaga-jaga serta waspada terhadap tanda-tanda kedatangannya. Namun yang terlebih penting ialah siap sedia untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali kapan saja.
KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan, Yesus tidak dapat dipisahkan dari Kerajaan Allah. Perkataan Yesus mengenai Kerajaan Allah tidak bisa hanya dipandang kekiniannya atau keakanan Kerajaan Allah saja. Namun harus dilihat keduanya yaitu kekinian dan keakanannya. Kekinian kedatangan Kerajaan Allah harus dilihat di dalam kehadiran Tuhan Yesus di dalam dunia dimana Yesus memulai pelayanan-Nya di dunia. Sedangkan keakanan kedatangan Kerajaan Allah harus dilihat pada saat kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Kedua aspek ini tidak dapat dipisahkan. Pandangan Werner Kummel, Alfred Plummer, dan J.A.C. Van Leeuwen yang hanya menekankan keakanan kedatangan Kerajaan Allah serta pandangan C.H. Dodd yang hanya menekankan kekinian kedatangan Kerajaan Allah saja adalah kurang proporsional. Perkataan Tuhan Yesus mengenai kedatangan-Nya bukan bicara mengenai kapan waktu-Nya namun bicara mengenai kepastian kedatangan-Nya yang kedua kali. Kerajaan Allah sudah datang saat ini namun penyempurnaan-Nya adalah nanti pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya. Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali-Nya tidak ada yang dapat mengetahuinya sehingga sebagai orang percaya hendaknya senantiasa berdoa dan berjaga-jaga untuk menyambut kapanpun waktu kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.

Filed Under:

Shared and Contact

Bagikan renungan, artikel, cerita, kritik dan saran Anda, klik Disini atau Send Email.

1 comment

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Anonymous says:

    Hello to every , for the reason that I am really eager of reading this blog's post to be updated daily. It includes fastidious stuff.

    My site twitter

     

Leave a Reply